Rabu, 20 Juni 2012

PSPS Pekanbaru adalah klub sepak bola kebanggaan kota Pekanbaru, Riau. Tim ini memiliki julukan Askar Bertuah, sesuai julukan kota Pekanbaru, Kota Bertuah. Para suporter fanatik mereka disebut Asykar Theking. Musim ini rencananya PSPS akan menggunakan kandang baru yaitu Stadion Sports Centre Kuansing.
Musim lalu PSPS tampil mengejutkan dengan berada di peringkat 7 klasemen akhir Liga Super Indonesia, padahal tidak banyak pemain bintang yang menghuni skuad PSPS. Di musim ini PSPS tidak banyak merubah skuad yang sudah ada, tanpa banyak membeli pemain bintang.

profil psps

Berikut ini profil singkat tim sepakbola PSPS Pekanbaru, tim terkuat di seantero Provinsi Riau dan Kepulauan Riau dan merupakan salah satu dari tiga tim sepakbola terkuat di Sumatra saat ini.

Nama klub
Lengkap : Persatuan Sepakbola Pekanbaru Sekitar
Formal : PSPS Pekanbaru
Singkat : PSPS

Sekretariat :

Stadion : Stadion Khaharuddin Nasution, Rumbai - Pekanbaru.

Julukan : Asykar Bertuah

Nama Supporter : Asykar Theking

Warna Kostum
Kostum 1 : Biru Putih Biru (Kandang)
Kostum 2 : Merah Kuning Merah

Pelatih : Abdul Rahman Gurning

Manajer : Distrayani Bibra

Ketua Umum : H. Herman Abdullah M.M

Nama pemain PSPS Klik disini.

Sebagaimana bisa dilihat profil ini tidak lengkap, bagi yang punya ide atau tambahan informasi yang lebih lengkap mengenai profil tim PSPS Pekanbaru kesayangan kita diatas, silakan isi form komentar dibawah.

Senin, 18 Juni 2012

sejarah psps


SEJARAH PSPS PEKANBARU


on 14 Januari 2012
Tidak gampang untuk mengangkat perserikatan Pekanbaru untuk menjadi bond perserikatan yang disegani di Kancah sepakbola nasional. Selama 44 Tahun hingga melangkah ke Divisi Utama PSSI tahun 1999. PSPS selalu menghitung hari dan menebar harapan.
Mulai dari periode kepengurusan pertama yang dipimpin mantan Kepala PLN PEKANBARU,Yubahar. Saat itu langkah PSPS hanyalah sebuah perserikatan kecil yang hanya didukung lima klub anggota yang terdiri dari PS IPP (Ikatan Pemuda Pekanbaru), PS PELAYARAN, PS CALTEX, PS PU (Pekerjaan Umum) dan PS Elektra (PLN).
Meski begitu diawal berdirinya, PSPS sudah menjadi bond yang sejajar dengan perserikatan lain yang ada di Sumatra,yang memiliki aset berupa pemain nasional. Tahun 1961 PSPS juga pernah ikut PON di Bandung maka tersebutlah beberapa pemain seperti jayusman, Thamrin manaf dan Hamid. Saat itu kondisi pendidikandan sepakbola berbeda dengan kondisi sekarang. dr Thamrin manaf yang dipanggil ke Timnas,tidak bisa bergabung karena tidak mendapat izin dari Sekolah dan Tempat ia bekerja. Meski begitu jatah Riau diisi oleh Hamid yang saat itu menjadi kiper nasional. hamid kala itu sangat diidolakan masyarakat Pekanbaru, Hamid memperkuat Timnas Indonesia di Pyongyang Korea Utara tahun 1963 dibawah pelatih EA Mangindaan.
Besarnya potensi sepakbola di Pekanbaru saat itu pulalah yang kemudian menggiring Gubernur Riau Kaharudin Nasution untuk mendirikan sebuah Stadion yang diberi nama Stadion Dwikora  pada tahun 1963. Meski terbuat dari kayu ,stadion ini menjadi pusat olahraga pertama di Pekanbaru. Pemain PSPS lain yang juga sempat terdaftar sebagai Pemain Tim nasional adalah Jayusman, Jayusman adalah pegawai Kantor Pajak, Tetapi sayang Gelandang Tangguh PSPS ini gagal memperkuat Tim nas yang rencana akan tampil di Aljazair, saat itu Aljazair ada pergolakan.
Era dukungan dan gairah dari masyarakat Pekanbaru tidak berlanjut, era Hamid,Thamrin Manaf, Jayusman hanya menghasilkan kenangan yang indah untuk dikenang. Kepengurusan demi kepengurusan pun mulai berganti,tercatat beberapa nama sempat menjadi Ketua Umum PSPS PEKANBARU diantaranya Farouq Alwi yang saat itu menjadi Walikota Pekanbaru, hingga tradisi Ketua Umum PSPS dijabat oleh walikota Pekanbaru.
Pada tahun 1972 pusat pelatihan pemain PSPS yaitu Stadion Dwikora mengalami kebakaran, dan bangunan utama dari Stadion tersebut mengalami kebakaran hebat sehingga tidak dapat digunakan kembali.  Stadion yang telah menjadi pusat pembibitan pemain PSPS PEKANBARU ini sempat terbengkalai selama 6 tahun dan hanya menjadi lapangan ilalang. Hingga akhirnya dibangun kembali oleh PT. CPI dan diresmikan oleh Gubernur Riau Arifin Achmad pada tanggal 13 Maret 1977 dengan kapasitas penonton 3500 orang.  Kemudian pada tanggal 8 Maret 1980 Stadion ini berganti nama menjadi Stadion Hang Tuah dan pengantian namanya diresmikan oleh Menpora Abdul Gafur.
Setelah Stadion kembali ada, PSPS mulai aktif kembali, dan PSPS kembali mampu menggairahkan pemain mudanya untuk memacu prestasi,maka lahirlah pemain seperti Sugiarto yang pernah mengikuti seleksi PSSI Pra Olimpiade tahun 1975. Sejumlah nama juga hadir,hingga sekarang namanya masih disebut kehebantannya antara lain Mahmud (mewakili Sumbagut ke PON di Makassar), nantan Ibrahim, Nazwar Nurdin, Majid, Margono dan Ujang Jufri.
Usaha PSPS PEKANBARU untuk tampil di kompetisi elite nasional pernah hampir berhasil pada Tahun 1984. kala itu kompetisi terbagi antar Perserikatan dan Galatama. PSPS sebagai klub perserikatan tergabung dalam zona Sumbagut dan berhasil mewakili SUmatra mengikuti abbak play off di Cimahi, Jawa Barat untuk ke Divisi Utama. Sayangnya pada salah satu pertandingan melawan Tim Jawa, PSPS kalah. PSPS mengalami kelelahan karena sebagianbesar  pemain PSPS berasal dari PS UNRI yang pada saat bersamaan juga sedang melakukan turnamen di Bandung, sehingga harus pulang pergi Bandung-Cimahi.  Saat itu Peluang PSPS untuk lolos sangat besar sebab diperkuat sejumlah pemain nasional yang juga mereka semua adalah pemain handalan PS BPD RIAU (BANK RIAU KEPRI saat ini) diantaranya Ricky Darman, Dino Kardinal, Edu Mukhnim Sutanto Ongso"Aseng". Saat itu PS BPD merupakan salah satu klub elite yang tidak terkalahkan di Pekanbaru,berkat kepedulian Direktur Utama BPD Riau Syafii Yusuf yang saat itu juga menjadi Manajer PSPS PEKANBARU. Syafii Yusuf dinilai sebagai orang yang mempelopori masuknya pemain dari luar Riau ke Pekanbaru terutama dari Padang dan Medan.

Hingga akhirnya pada tahun 1994,jabatan kepengurusan PSPS dipimpin Iskandar Husin yang saat itu menjabat sebagai Kepala Kantor Wilayah Transmigrasi Riau. iskandar Husin juga sukses mempromosikan Persiraja Banda Aceh ke Divisi Utama PSSI, ia berusaha untuk mengembalikan bond perserikatan ini menjadi kebanggaan masyarakat Pekanbaru dan Riau.
Iskandar Husin mendatangkan pemain baru, dibawah pelatih kepala AMrustian, mulailah PSPS PEKANBARU merintis jalan di Divisi Dua menuju Divis Satu PSSI. Dan perjuangan itu akhirnya berhasil, pada Liga Indonesia tahun 1994/1995. Sejak saat itu PSPS bercokol di Divisi Satu PSSI.
Tahun 1995/1996 PSPS berhasil meraih juara dua Piala Menpora di Bogor serta juga lolos ke PON yang sebelumnya harus melewati seleksi tingkat regional.
MENAPAK DIVISI SATU PSSI
Pada tahun 1993/1994 dibawah kepemimpinan Ketua Umum yang Baru Ir. H. Iskandar Husin  yang saat itu menjabat sebagai Kepala Kantor Wilayah Transmigrasi Riau,maka target target untuk menapak kompetisi yang lebih ketat di Divisi Satu mulai dirintis.

Ditahun 1994/1995 PSPS berhasil menapakkan kaki di Divisi Satu dibawah bimbingan pelatih Amrustian.
Berkat keberhasilan itu Iskandar Husin mendapat pujian masyarakat pecinta bola Pekanbaru. Lalu semakin besarlah harapan dibebankan dipundaknya untuk membawa PSPS ke jenjang paling bergengsi yaitu Divisi Utama PSSI, namun upaya ini dua kali gagal. Di Liga Indonesia II (LIGINA II) PSPS hanya bisa bertahan tidak terdegradasi, di Liga Indonesia III (LIGINA III) PSPS berhasil masuk 10 besar. Hanya angan-angan dan impian Iskandar Husin untuk mengangkat PSPS ke Divisi Utama tidak kesampaian, hingga akhirnya Iskandar Husin yang pernah membawa Persiraja ke Divisi Utama PSSI pindah tugas ke Kalimantan Barat.


SANG JUARA DIVISI I

Era kebangaan itu akhirnya datang juga. Setelah berkutat di di Divisi II Wilayah Riau, Divisi II PSSI, dan Divisi I PSSI, jalan panjang itu mulai menampakkan titik terangnya. Pergantian kpengurusan dari Iskandar Husin ke Tengku Lukman Jafaar pada tahun 1997/1998 membuat PSPS bergairah kembali.

Didukung staf yang memiliki kemampuan untuk memanage organisasi,didukung semangat yang bergelora dari semua pengurus terutama peran besar dari Syali Duyun Tanjung (Alm) yang menjabat sebagai Ketua Harian PSPS.

Dengan merangkul pengusaha muda Riau, Arsadianto Rahman (Anto Rahman) sebagai manajer PSPS di LIGINA IV, PSPS mulai mendatangkan pemain yang berkualitas untuk mengangkat prestasi  sekaligus memotivasi pemain muda. Sayangnya gelora Divisi Utama sempat terhenti satu tahun karena LIGA INDONESIA IV dihentikan ditengah jalan karena pertukaran pemimpin di Tanah AIr.

Semangat itu terus muncul hingga akhirnya di Liga Indonesia v pada tahun 1998/1999 kembali diputar. PSPS melakukan persiapan yang benar-benar matang PSPS merekrut pelatih Nasional Sofyan Hadi serta mengontrak dua pemain asing yaitu Mourmada Marco dan Essama Raymond, keduanya menjadi idola baru publik Pekanbaru.  Disamping itu PSPS juga memboyong 10 pemain terbaik di tanah jawa untuk bermain di Pekanbaru,makam muncullah nama Hasyim, Khairul Minan, Kamarudin Betay. Masuknya pemain luar daerah ini justru memberi dampak postitif bagi PSPS, karena dengan kehadiran mereka,pemain lokal PSPS kembali bergairah untuk bersaing, maka muncullah pahlawan baru seperti Miskardi, Tharjaki Lubis, Agus Rianto.

Senin, 04 Juni 2012


.
ASYKAR THEKING dideklarasikan pada tanggal 21 Desember tahun 2002, yang dilatarbelakangi oleh keikutsertaan PSPS Pekanbaru pada LIGA INDONESIA. Sebelum ASYKAR THEKING dideklarasikan sebagai Supporter PSPS Pekanbaru, telah dulu hadir dalam pertandingan kandang PSPS Pekanbaru bahkan tidak jarang memberikan dukungan ketika pertandingan tandang. Melihat keadaan ini akhirnya beberapa kelompok ini sepakat berdiri dalam satu wadah guna memberikan dukungan total kepada ASYKAR BERTUAH yang mana kemudian diberi nama ASYKAR THEKING.

Penggabungan dua kata ini merupakan mufakat bersama, ASYKAR berarti pasukan, sedangkan THEKING diambil dari kata TEKING yang berarti Ngotot ataupun dalam pergaulan sehari hari kalimat “THEKING“ merupakan sebutan kepada orang yang tidak mau kalah, namun agar istilah THEKING mempunyai makna yang luas, maka kata TEKING ditulis THEKING namun tetap dalam ucapan TEKING.

Semenjak berkiprah pada LIGA INDONESIA VIII 2002, ASYKAR THEKING telah membuktikan diri sebagai Supporter yang benar-benar memberikan dukungan kepada PSPS Pekanbaru. ASYKAR THEKING merupakan ujung tombak yang mengakomodir pendukung PSPS Pekanbaru. Dan dalam beberapa kesempatan ASYKAR THEKING sering mengadakan pertemuan dengan management dan pemain PSPS Pekanbaru guna memacu dan memotivasi prestasi PSPS Pekanbaru itu sendiri. Dan juga ASYKAR THEKING tidak henti-hentinya mensosialisasikan keberadaan PSPS Pekanbaru ini ke berbagai pelosok Pekanbaru bahkan sampai seluruh Provinsi Riau dan juga berusaha mensosialisasikan ke berbagai kalangan.

Tradisi Sepak Bola yang belum mengakar di Kota Pekanbaru khususnya dan Provinsi Riau pada umumnya membuat sosialisasi ASYKAR THEKING ini banyak mengalami kesulitan. Banyak tanggapan yang tidak seharusnya dilontarkan kepada pencinta PSPS Pekanbaru ini yang notabene merupakan pendukung setia kesebelasan PSPS Pekanbaru kebanggaan Kota Bertuah. Namun berkat kerja keras ASYKAR THEKING dan pendukung beberapa pihak yang se-ide dan se-pemikiran, ASYKAR THEKING sekarang tumbuh menjadi sebuah kelompok Supporter yang sudah dikenal di Indonesia. Memang tujuan dari berdirinya ASYKAR THEKING selain memberikan dukungan kepada PSPS Pekanbaru adalah menjalin persahabatan dengan Supporter lain dan juga menjaga agar pertandingan PSPS Pekanbaru berlangsung dalam keadaan kondusif.

Harus diakui semenjak kelahiran ASYKAR THEKING pertandingan kandang PSPS Pekanbaru berlangsung tertib dan aman, karena ASYKAR THEKING memberikan contoh kepada penonton lain dalam memberikan dukungan yang Sportif kepada PSPS Pekanbaru. Sebelum kehadiran ASYKAR THEKING sering terjadi perpecahan dukungan antara penonton didalam stadion, hal ini mungkin terjadi karena penduduk Pekanbaru yang heterogen (terdiri dari banyak suku daerah) dengan latar belakang budaya yang berbeda namun hal ini dapat berubah drastis dengan kehadiran ASYKAR THEKING. Dan sampai saat sekarang ini dapat dipastikan seluruh penonton pertandingan kandang PSPS Pekanbaru, sekarang satu suara memberikan dukungan untuk ASYKAR BERTUAH.

Asykar Theking Berharap Manajer PSPS Kreatif Cari Dana

Ketua kelompok pendukung setia PSPS, Asykar Theking, Nasrul SH mengharapkan manajer PSPS yang akan membawa PSPS berlaga di kompetisi sepakbola nomor wahid di Indonesia atau Liga Super mendatang harus kreatif.

Kreatif dimaksud adalah orang yang benar-benar mempunyai link yang kuat dengan perusahaan-perusahaan besar yang ada di Pekanbaru dan Riau dan mempunyai loby yang bagus pula. ‘’Siapa pun yang menjadi manajer PSPS musim depan harus lah orang yang benar-benar loyal dan kreatif untuk masa depan PSPS selama kompetisi,’’ ujar Nasrul kepada Riau Pos, Senin (4/7).

Hal ini diutarakan Nasrul, karena mulai kompetisi musim depan, sudah hampir dipastikan bahwa PSPS tidak akan lagi mendapat suntikan dana dari APBD, karena hal ini sudah ada larangan dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri). Seperti diketahui selama ini PSPS mengandalkan APBD Kota Pekanbaru.

‘’Kita mendukung putusan tak boleh menggunakan APBD. Jadi memang sudah saatnya PSPS mandiri seperti dilakukan klub-klub sepakbola profesional lainnya. Meski demikian, kita juga mengharapkan kepada pemerintah untuk memberikan jalan supaya perusahaan-perusahaan yang ada bisa membantu,’’ katanya lagi.

Disinilah peran seorang manajer sangat diperlukan bagaimana bisa “menjual” PSPS supaya bisa mendatangkan banyak dukungan dari perusahaan besar itu. ‘’Selama ini kan manajer hanya mengelola anggaran yang diturunkan dari APBD,’’ jelasnya.(agustiar/riaupos)

Sejarah Asykar Theking


ASYKAR THEKING didirikan di Pekanbaru 21 Desember 2001 bertempat di Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru.

Berawal dari keinginan para pengurus dan manajemen PSPS Pekanbaru untuk membuat suporter yang akan mendukung PSPS Pekanbaru dalam setiap pertandingannya.

Apalagi setelah PSPS Pekanbaru lolos masuk ke Divisi Utama, Mafrion membentuk dan menyerahkan kepada Painur untuk membina suporter yang bernama “ASKAR BERTUAH” sesuai dengan julukan tim PSPS Pekanbaru.

Kemudian Edi Iskandar (pemilik SSB Portes) yang pada saat itu memeiliki murid sekitar 180 orang mendapat tawaran dari Jeffri Nazir, untuk mengerahkan anak didiknya untuk menjadi suporter PSPS Pekanbaru.

hal ini langung ditanggapi oleh Edi Iskandar dengan serius. Pada saat mendukung PSPS Pekanbaru untuk pertama kalinya yaitu melawan Persijatim, Edi Iskandar meminta anak didiknya memakai kostum merah dan biru. Dan untuk menciptakan suasana agar lebih ramai Edi iskandar membuat bendera dengan uang pribadinya dan dijahit oleh almarhumah ibunya.

Hari itu PSPS menang 3-1 melawan Persijatim!

Dari peritiwa tersebut, maka aktivitas dukungan kepada PSPS Pekanbaru terus berlanjut dan semakin ramai.

Dan kemudian diadakan pertemuan pada hari Jumat tanggal 21 Desember 2001 di Hotel Mutiara Merdeka guna secara bersama-sama membentuk suporter PSPS Pekanbaru, dan kemudian dipilih lah nama "Asykar Theking".

Julukan "ASYKAR THEKING" sebagai supporter PSPS ini terpilih setelah beberapa anggota rapat sepakat denga nama ASYKAR sebagai arti PASUKAN dalam bahasa melayu.

Hanya saja,berbeda dengan nama ASKAR pada julukan tim PSPS, "Asykar" pada kelompok supporter mengunakan huruf Y dan tasdit (') diantara huruf S dan Y, sesuai dengan ejaan huruf melayu. "Teking" atau "Theking" merupakan istilah dalam panggilan sehari-hari di kehidupan orang melayu yang merupakan sebutan untu seseorang yang bandel, pantang menyerah dan tanpa henti untuk memperoleh atau mencapai sesuatu .

Dalam pertemuan itu disepakati pembentukan delapan rayon sesuai dengan jumlah kecamatan yang ada di Pekanbaru pada waktu itudan beberapa rayon di daerah sekitar kota Pekanbaru.

Sedangkan di bawah Rayon akan di bentuk bathin-bathin dan merupakan kumpulan supporter dengan jumlah yang lebih kecil.

sejarah psps



    Berdiri: 1955
    Alamat: Jl. Kenanga No. 47-A Indonesia
    Telepon: +62 (0) 761-21329
    Faksimile: +62 (0) 761-21329
    Ketua: Drs. Herman Abdullah
    Direktur: Destrayani Bibra
    Stadion: Khaharuddin Nasution, Rumbai
    Sejarah Singkat
    Sejak berdirinya, PSPS Pekanbaru baru bisa mencicipi persaingan di Divisi Utama pada tahun 1998. PSPS pernah mengalami masa kejayaan pada musim 2004 di Liga Indonesia, ketika diperkuat sejumlah pemain tim nasional. Mereka juga sempat menjadi tim disegani selama dua musim.

    Namun karena gagal menjadi juara, manajemen PSPS lalu merombak tim. Akibatnya, mereka terperosok, bahkan sampai ke Divisi I. PSPS promosi ke Divisi Utama setelah mengalahkan PS Indocement Cirebon.

    PSPS kembali ke kasta tertinggi setelah menempati peringkat tiga Divisi Utama Liga Indonesia 2008/09. 

    Di bawah kepelatianh Abdulrahman Gurning, PSPS bertahan di Superliga dengan finis di peringkat ketujuh pada musim 2009/10.

    Di tengah dualisme kompetisi sepakbola nasional, PSPS tetap ikut di Indonesia Super League (ISL) di bawah pengelolaan PT. Liga Indonesi