PSPS Pekanbaru adalah klub sepak bola kebanggaan kota Pekanbaru,
Riau. Tim ini memiliki julukan Askar Bertuah, sesuai julukan kota
Pekanbaru, Kota Bertuah. Para suporter fanatik mereka disebut Asykar
Theking. Musim ini rencananya PSPS akan menggunakan kandang baru yaitu
Stadion Sports Centre Kuansing.
Musim lalu PSPS tampil mengejutkan dengan berada di peringkat 7
klasemen akhir Liga Super Indonesia, padahal tidak banyak pemain bintang
yang menghuni skuad PSPS. Di musim ini PSPS tidak banyak merubah skuad
yang sudah ada, tanpa banyak membeli pemain bintang.
muhammad iqbal asykar the king
Rabu, 20 Juni 2012
profil psps
Berikut ini profil singkat
tim sepakbola PSPS Pekanbaru, tim terkuat di seantero Provinsi Riau dan
Kepulauan Riau dan merupakan salah satu dari tiga tim sepakbola terkuat
di Sumatra saat ini.
Nama klub
Lengkap : Persatuan Sepakbola Pekanbaru Sekitar
Formal : PSPS Pekanbaru
Singkat : PSPS
Sekretariat :
Stadion : Stadion Khaharuddin Nasution, Rumbai - Pekanbaru.
Julukan : Asykar Bertuah
Nama Supporter : Asykar Theking
Warna Kostum
Kostum 1 : Biru Putih Biru (Kandang)
Kostum 2 : Merah Kuning Merah
Pelatih : Abdul Rahman Gurning
Manajer : Distrayani Bibra
Ketua Umum : H. Herman Abdullah M.M
Nama pemain PSPS Klik disini.
Sebagaimana bisa dilihat profil ini tidak lengkap, bagi yang punya ide atau tambahan informasi yang lebih lengkap mengenai profil tim PSPS Pekanbaru kesayangan kita diatas, silakan isi form komentar dibawah.
Nama klub
Lengkap : Persatuan Sepakbola Pekanbaru Sekitar
Formal : PSPS Pekanbaru
Singkat : PSPS
Sekretariat :
Stadion : Stadion Khaharuddin Nasution, Rumbai - Pekanbaru.
Julukan : Asykar Bertuah
Nama Supporter : Asykar Theking
Warna Kostum
Kostum 1 : Biru Putih Biru (Kandang)
Kostum 2 : Merah Kuning Merah
Pelatih : Abdul Rahman Gurning
Manajer : Distrayani Bibra
Ketua Umum : H. Herman Abdullah M.M
Nama pemain PSPS Klik disini.
Sebagaimana bisa dilihat profil ini tidak lengkap, bagi yang punya ide atau tambahan informasi yang lebih lengkap mengenai profil tim PSPS Pekanbaru kesayangan kita diatas, silakan isi form komentar dibawah.
Senin, 18 Juni 2012
sejarah psps
SEJARAH PSPS PEKANBARU
Diposkan oleh
RIAU DAILY PHOTO
on 14 Januari 2012
di
12:31
Tidak gampang untuk mengangkat perserikatan Pekanbaru untuk menjadi bond
perserikatan yang disegani di Kancah sepakbola nasional. Selama 44
Tahun hingga melangkah ke Divisi Utama PSSI tahun 1999. PSPS selalu
menghitung hari dan menebar harapan.
Mulai dari periode kepengurusan pertama yang dipimpin mantan Kepala PLN PEKANBARU,Yubahar. Saat itu langkah PSPS
hanyalah sebuah perserikatan kecil yang hanya didukung lima klub
anggota yang terdiri dari PS IPP (Ikatan Pemuda Pekanbaru), PS
PELAYARAN, PS CALTEX, PS PU (Pekerjaan Umum) dan PS Elektra (PLN).
Meski begitu diawal berdirinya, PSPS sudah menjadi bond yang sejajar
dengan perserikatan lain yang ada di Sumatra,yang memiliki aset berupa
pemain nasional. Tahun 1961 PSPS juga pernah ikut PON di Bandung maka
tersebutlah beberapa pemain seperti jayusman, Thamrin manaf dan Hamid. Saat itu kondisi pendidikandan sepakbola berbeda dengan kondisi sekarang. dr Thamrin manaf yang dipanggil ke Timnas,tidak bisa bergabung karena tidak mendapat izin dari Sekolah dan Tempat ia bekerja.
Meski begitu jatah Riau diisi oleh Hamid yang saat itu menjadi kiper
nasional. hamid kala itu sangat diidolakan masyarakat Pekanbaru, Hamid memperkuat Timnas Indonesia di Pyongyang Korea Utara tahun 1963 dibawah pelatih EA Mangindaan.
Besarnya potensi sepakbola di Pekanbaru saat itu pulalah yang kemudian menggiring Gubernur Riau Kaharudin Nasution untuk mendirikan sebuah Stadion yang diberi nama Stadion Dwikora pada tahun 1963. Meski terbuat dari kayu ,stadion ini menjadi pusat olahraga pertama di Pekanbaru. Pemain
PSPS lain yang juga sempat terdaftar sebagai Pemain Tim nasional adalah
Jayusman, Jayusman adalah pegawai Kantor Pajak, Tetapi sayang Gelandang
Tangguh PSPS ini gagal memperkuat Tim nas yang rencana akan tampil di
Aljazair, saat itu Aljazair ada pergolakan.
Era dukungan dan gairah dari masyarakat Pekanbaru tidak berlanjut, era
Hamid,Thamrin Manaf, Jayusman hanya menghasilkan kenangan yang indah
untuk dikenang. Kepengurusan demi kepengurusan pun mulai
berganti,tercatat beberapa nama sempat menjadi Ketua Umum PSPS PEKANBARU
diantaranya Farouq Alwi yang saat itu menjadi Walikota Pekanbaru,
hingga tradisi Ketua Umum PSPS dijabat oleh walikota Pekanbaru.
Pada tahun 1972 pusat pelatihan pemain PSPS yaitu Stadion Dwikora
mengalami kebakaran, dan bangunan utama dari Stadion tersebut mengalami
kebakaran hebat sehingga tidak dapat digunakan kembali. Stadion
yang telah menjadi pusat pembibitan pemain PSPS PEKANBARU ini sempat
terbengkalai selama 6 tahun dan hanya menjadi lapangan ilalang. Hingga
akhirnya dibangun kembali oleh PT. CPI dan diresmikan oleh Gubernur Riau
Arifin Achmad pada tanggal 13 Maret 1977 dengan kapasitas penonton 3500
orang. Kemudian pada tanggal 8 Maret 1980 Stadion ini berganti nama
menjadi Stadion Hang Tuah dan pengantian namanya diresmikan oleh Menpora
Abdul Gafur.
Setelah Stadion kembali ada, PSPS mulai aktif kembali, dan PSPS kembali
mampu menggairahkan pemain mudanya untuk memacu prestasi,maka lahirlah
pemain seperti Sugiarto yang pernah mengikuti seleksi PSSI Pra Olimpiade tahun 1975. Sejumlah nama juga hadir,hingga sekarang namanya masih disebut kehebantannya antara lain Mahmud (mewakili Sumbagut ke PON di Makassar), nantan Ibrahim, Nazwar Nurdin, Majid, Margono dan Ujang Jufri.
Usaha PSPS PEKANBARU untuk tampil di kompetisi elite nasional pernah
hampir berhasil pada Tahun 1984. kala itu kompetisi terbagi antar
Perserikatan dan Galatama. PSPS sebagai klub perserikatan tergabung
dalam zona Sumbagut dan berhasil mewakili SUmatra mengikuti abbak play
off di Cimahi, Jawa Barat untuk ke Divisi Utama. Sayangnya pada salah
satu pertandingan melawan Tim Jawa, PSPS kalah. PSPS mengalami kelelahan
karena sebagianbesar pemain PSPS berasal dari PS UNRI yang pada saat
bersamaan juga sedang melakukan turnamen di Bandung, sehingga harus
pulang pergi Bandung-Cimahi. Saat itu Peluang PSPS untuk lolos sangat
besar sebab diperkuat sejumlah pemain nasional yang juga mereka semua
adalah pemain handalan PS BPD RIAU (BANK RIAU KEPRI saat ini)
diantaranya Ricky Darman, Dino Kardinal, Edu Mukhnim Sutanto
Ongso"Aseng". Saat itu PS BPD merupakan salah satu klub elite yang tidak
terkalahkan di Pekanbaru,berkat kepedulian Direktur Utama BPD Riau
Syafii Yusuf yang saat itu juga menjadi Manajer PSPS PEKANBARU. Syafii
Yusuf dinilai sebagai orang yang mempelopori masuknya pemain dari luar
Riau ke Pekanbaru terutama dari Padang dan Medan.
Hingga akhirnya pada tahun 1994,jabatan kepengurusan PSPS dipimpin
Iskandar Husin yang saat itu menjabat sebagai Kepala Kantor Wilayah
Transmigrasi Riau. iskandar Husin juga sukses mempromosikan Persiraja
Banda Aceh ke Divisi Utama PSSI, ia berusaha untuk mengembalikan bond
perserikatan ini menjadi kebanggaan masyarakat Pekanbaru dan Riau.
Iskandar Husin mendatangkan pemain baru, dibawah pelatih kepala
AMrustian, mulailah PSPS PEKANBARU merintis jalan di Divisi Dua menuju
Divis Satu PSSI. Dan perjuangan itu akhirnya berhasil, pada Liga
Indonesia tahun 1994/1995. Sejak saat itu PSPS bercokol di Divisi Satu
PSSI.
Tahun 1995/1996 PSPS berhasil meraih juara dua Piala Menpora di Bogor
serta juga lolos ke PON yang sebelumnya harus melewati seleksi tingkat
regional.
MENAPAK DIVISI SATU PSSI
Pada tahun 1993/1994 dibawah kepemimpinan Ketua Umum yang Baru Ir. H.
Iskandar Husin yang saat itu menjabat sebagai Kepala Kantor Wilayah
Transmigrasi Riau,maka target target untuk menapak kompetisi yang lebih
ketat di Divisi Satu mulai dirintis.
Ditahun 1994/1995 PSPS berhasil menapakkan kaki di Divisi Satu dibawah bimbingan pelatih Amrustian.
SANG JUARA DIVISI I
Era kebangaan itu akhirnya datang juga. Setelah berkutat di di Divisi II Wilayah Riau, Divisi II PSSI, dan Divisi I PSSI, jalan panjang itu mulai menampakkan titik terangnya. Pergantian kpengurusan dari Iskandar Husin ke Tengku Lukman Jafaar pada tahun 1997/1998 membuat PSPS bergairah kembali.
Didukung staf yang memiliki kemampuan untuk memanage organisasi,didukung semangat yang bergelora dari semua pengurus terutama peran besar dari Syali Duyun Tanjung (Alm) yang menjabat sebagai Ketua Harian PSPS.
Dengan merangkul pengusaha muda Riau, Arsadianto Rahman (Anto Rahman) sebagai manajer PSPS di LIGINA IV, PSPS mulai mendatangkan pemain yang berkualitas untuk mengangkat prestasi sekaligus memotivasi pemain muda. Sayangnya gelora Divisi Utama sempat terhenti satu tahun karena LIGA INDONESIA IV dihentikan ditengah jalan karena pertukaran pemimpin di Tanah AIr.
Semangat itu terus muncul hingga akhirnya di Liga Indonesia v pada tahun 1998/1999 kembali diputar. PSPS melakukan persiapan yang benar-benar matang PSPS merekrut pelatih Nasional Sofyan Hadi serta mengontrak dua pemain asing yaitu Mourmada Marco dan Essama Raymond, keduanya menjadi idola baru publik Pekanbaru. Disamping itu PSPS juga memboyong 10 pemain terbaik di tanah jawa untuk bermain di Pekanbaru,makam muncullah nama Hasyim, Khairul Minan, Kamarudin Betay. Masuknya pemain luar daerah ini justru memberi dampak postitif bagi PSPS, karena dengan kehadiran mereka,pemain lokal PSPS kembali bergairah untuk bersaing, maka muncullah pahlawan baru seperti Miskardi, Tharjaki Lubis, Agus Rianto.
Senin, 04 Juni 2012
.
ASYKAR THEKING dideklarasikan pada tanggal 21 Desember tahun 2002, yang dilatarbelakangi oleh keikutsertaan PSPS Pekanbaru pada LIGA INDONESIA. Sebelum ASYKAR THEKING dideklarasikan sebagai Supporter PSPS Pekanbaru, telah dulu hadir dalam pertandingan kandang PSPS Pekanbaru bahkan tidak jarang memberikan dukungan ketika pertandingan tandang. Melihat keadaan ini akhirnya beberapa kelompok ini sepakat berdiri dalam satu wadah guna memberikan dukungan total kepada ASYKAR BERTUAH yang mana kemudian diberi nama ASYKAR THEKING.
Penggabungan dua kata ini merupakan mufakat bersama, ASYKAR berarti pasukan, sedangkan THEKING diambil dari kata TEKING yang berarti Ngotot ataupun dalam pergaulan sehari hari kalimat “THEKING“ merupakan sebutan kepada orang yang tidak mau kalah, namun agar istilah THEKING mempunyai makna yang luas, maka kata TEKING ditulis THEKING namun tetap dalam ucapan TEKING.
Semenjak berkiprah pada LIGA INDONESIA VIII 2002, ASYKAR THEKING telah membuktikan diri sebagai Supporter yang benar-benar memberikan dukungan kepada PSPS Pekanbaru. ASYKAR THEKING merupakan ujung tombak yang mengakomodir pendukung PSPS Pekanbaru. Dan dalam beberapa kesempatan ASYKAR THEKING sering mengadakan pertemuan dengan management dan pemain PSPS Pekanbaru guna memacu dan memotivasi prestasi PSPS Pekanbaru itu sendiri. Dan juga ASYKAR THEKING tidak henti-hentinya mensosialisasikan keberadaan PSPS Pekanbaru ini ke berbagai pelosok Pekanbaru bahkan sampai seluruh Provinsi Riau dan juga berusaha mensosialisasikan ke berbagai kalangan.
Tradisi Sepak Bola yang belum mengakar di Kota Pekanbaru khususnya dan Provinsi Riau pada umumnya membuat sosialisasi ASYKAR THEKING ini banyak mengalami kesulitan. Banyak tanggapan yang tidak seharusnya dilontarkan kepada pencinta PSPS Pekanbaru ini yang notabene merupakan pendukung setia kesebelasan PSPS Pekanbaru kebanggaan Kota Bertuah. Namun berkat kerja keras ASYKAR THEKING dan pendukung beberapa pihak yang se-ide dan se-pemikiran, ASYKAR THEKING sekarang tumbuh menjadi sebuah kelompok Supporter yang sudah dikenal di Indonesia. Memang tujuan dari berdirinya ASYKAR THEKING selain memberikan dukungan kepada PSPS Pekanbaru adalah menjalin persahabatan dengan Supporter lain dan juga menjaga agar pertandingan PSPS Pekanbaru berlangsung dalam keadaan kondusif.
Harus diakui semenjak kelahiran ASYKAR THEKING pertandingan kandang PSPS Pekanbaru berlangsung tertib dan aman, karena ASYKAR THEKING memberikan contoh kepada penonton lain dalam memberikan dukungan yang Sportif kepada PSPS Pekanbaru. Sebelum kehadiran ASYKAR THEKING sering terjadi perpecahan dukungan antara penonton didalam stadion, hal ini mungkin terjadi karena penduduk Pekanbaru yang heterogen (terdiri dari banyak suku daerah) dengan latar belakang budaya yang berbeda namun hal ini dapat berubah drastis dengan kehadiran ASYKAR THEKING. Dan sampai saat sekarang ini dapat dipastikan seluruh penonton pertandingan kandang PSPS Pekanbaru, sekarang satu suara memberikan dukungan untuk ASYKAR BERTUAH.
Penggabungan dua kata ini merupakan mufakat bersama, ASYKAR berarti pasukan, sedangkan THEKING diambil dari kata TEKING yang berarti Ngotot ataupun dalam pergaulan sehari hari kalimat “THEKING“ merupakan sebutan kepada orang yang tidak mau kalah, namun agar istilah THEKING mempunyai makna yang luas, maka kata TEKING ditulis THEKING namun tetap dalam ucapan TEKING.
Semenjak berkiprah pada LIGA INDONESIA VIII 2002, ASYKAR THEKING telah membuktikan diri sebagai Supporter yang benar-benar memberikan dukungan kepada PSPS Pekanbaru. ASYKAR THEKING merupakan ujung tombak yang mengakomodir pendukung PSPS Pekanbaru. Dan dalam beberapa kesempatan ASYKAR THEKING sering mengadakan pertemuan dengan management dan pemain PSPS Pekanbaru guna memacu dan memotivasi prestasi PSPS Pekanbaru itu sendiri. Dan juga ASYKAR THEKING tidak henti-hentinya mensosialisasikan keberadaan PSPS Pekanbaru ini ke berbagai pelosok Pekanbaru bahkan sampai seluruh Provinsi Riau dan juga berusaha mensosialisasikan ke berbagai kalangan.
Tradisi Sepak Bola yang belum mengakar di Kota Pekanbaru khususnya dan Provinsi Riau pada umumnya membuat sosialisasi ASYKAR THEKING ini banyak mengalami kesulitan. Banyak tanggapan yang tidak seharusnya dilontarkan kepada pencinta PSPS Pekanbaru ini yang notabene merupakan pendukung setia kesebelasan PSPS Pekanbaru kebanggaan Kota Bertuah. Namun berkat kerja keras ASYKAR THEKING dan pendukung beberapa pihak yang se-ide dan se-pemikiran, ASYKAR THEKING sekarang tumbuh menjadi sebuah kelompok Supporter yang sudah dikenal di Indonesia. Memang tujuan dari berdirinya ASYKAR THEKING selain memberikan dukungan kepada PSPS Pekanbaru adalah menjalin persahabatan dengan Supporter lain dan juga menjaga agar pertandingan PSPS Pekanbaru berlangsung dalam keadaan kondusif.
Harus diakui semenjak kelahiran ASYKAR THEKING pertandingan kandang PSPS Pekanbaru berlangsung tertib dan aman, karena ASYKAR THEKING memberikan contoh kepada penonton lain dalam memberikan dukungan yang Sportif kepada PSPS Pekanbaru. Sebelum kehadiran ASYKAR THEKING sering terjadi perpecahan dukungan antara penonton didalam stadion, hal ini mungkin terjadi karena penduduk Pekanbaru yang heterogen (terdiri dari banyak suku daerah) dengan latar belakang budaya yang berbeda namun hal ini dapat berubah drastis dengan kehadiran ASYKAR THEKING. Dan sampai saat sekarang ini dapat dipastikan seluruh penonton pertandingan kandang PSPS Pekanbaru, sekarang satu suara memberikan dukungan untuk ASYKAR BERTUAH.
Asykar Theking Berharap Manajer PSPS Kreatif Cari Dana
Ketua kelompok pendukung setia PSPS, Asykar Theking, Nasrul SH mengharapkan manajer PSPS yang akan membawa PSPS berlaga di kompetisi sepakbola nomor wahid di Indonesia atau Liga Super mendatang harus kreatif.
Kreatif dimaksud adalah orang yang benar-benar mempunyai link yang kuat dengan perusahaan-perusahaan besar yang ada di Pekanbaru dan Riau dan mempunyai loby yang bagus pula. ‘’Siapa pun yang menjadi manajer PSPS musim depan harus lah orang yang benar-benar loyal dan kreatif untuk masa depan PSPS selama kompetisi,’’ ujar Nasrul kepada Riau Pos, Senin (4/7).
Hal ini diutarakan Nasrul, karena mulai kompetisi musim depan, sudah hampir dipastikan bahwa PSPS tidak akan lagi mendapat suntikan dana dari APBD, karena hal ini sudah ada larangan dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri). Seperti diketahui selama ini PSPS mengandalkan APBD Kota Pekanbaru.
‘’Kita mendukung putusan tak boleh menggunakan APBD. Jadi memang sudah saatnya PSPS mandiri seperti dilakukan klub-klub sepakbola profesional lainnya. Meski demikian, kita juga mengharapkan kepada pemerintah untuk memberikan jalan supaya perusahaan-perusahaan yang ada bisa membantu,’’ katanya lagi.
Disinilah peran seorang manajer sangat diperlukan bagaimana bisa “menjual” PSPS supaya bisa mendatangkan banyak dukungan dari perusahaan besar itu. ‘’Selama ini kan manajer hanya mengelola anggaran yang diturunkan dari APBD,’’ jelasnya.(agustiar/riaupos)
Kreatif dimaksud adalah orang yang benar-benar mempunyai link yang kuat dengan perusahaan-perusahaan besar yang ada di Pekanbaru dan Riau dan mempunyai loby yang bagus pula. ‘’Siapa pun yang menjadi manajer PSPS musim depan harus lah orang yang benar-benar loyal dan kreatif untuk masa depan PSPS selama kompetisi,’’ ujar Nasrul kepada Riau Pos, Senin (4/7).
Hal ini diutarakan Nasrul, karena mulai kompetisi musim depan, sudah hampir dipastikan bahwa PSPS tidak akan lagi mendapat suntikan dana dari APBD, karena hal ini sudah ada larangan dari Menteri Dalam Negeri (Mendagri). Seperti diketahui selama ini PSPS mengandalkan APBD Kota Pekanbaru.
‘’Kita mendukung putusan tak boleh menggunakan APBD. Jadi memang sudah saatnya PSPS mandiri seperti dilakukan klub-klub sepakbola profesional lainnya. Meski demikian, kita juga mengharapkan kepada pemerintah untuk memberikan jalan supaya perusahaan-perusahaan yang ada bisa membantu,’’ katanya lagi.
Disinilah peran seorang manajer sangat diperlukan bagaimana bisa “menjual” PSPS supaya bisa mendatangkan banyak dukungan dari perusahaan besar itu. ‘’Selama ini kan manajer hanya mengelola anggaran yang diturunkan dari APBD,’’ jelasnya.(agustiar/riaupos)
Sejarah Asykar Theking
ASYKAR THEKING didirikan di Pekanbaru 21 Desember 2001 bertempat di Hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru.
Berawal dari keinginan para pengurus dan manajemen PSPS Pekanbaru untuk membuat suporter yang akan mendukung PSPS Pekanbaru dalam setiap pertandingannya.
Apalagi setelah PSPS Pekanbaru lolos masuk ke Divisi Utama, Mafrion membentuk dan menyerahkan kepada Painur untuk membina suporter yang bernama “ASKAR BERTUAH” sesuai dengan julukan tim PSPS Pekanbaru.
Kemudian Edi Iskandar (pemilik SSB Portes) yang pada saat itu memeiliki murid sekitar 180 orang mendapat tawaran dari Jeffri Nazir, untuk mengerahkan anak didiknya untuk menjadi suporter PSPS Pekanbaru.
hal ini langung ditanggapi oleh Edi Iskandar dengan serius. Pada saat mendukung PSPS Pekanbaru untuk pertama kalinya yaitu melawan Persijatim, Edi Iskandar meminta anak didiknya memakai kostum merah dan biru. Dan untuk menciptakan suasana agar lebih ramai Edi iskandar membuat bendera dengan uang pribadinya dan dijahit oleh almarhumah ibunya.
Hari itu PSPS menang 3-1 melawan Persijatim!
Dari peritiwa tersebut, maka aktivitas dukungan kepada PSPS Pekanbaru terus berlanjut dan semakin ramai.
Dan kemudian diadakan pertemuan pada hari Jumat tanggal 21 Desember 2001 di Hotel Mutiara Merdeka guna secara bersama-sama membentuk suporter PSPS Pekanbaru, dan kemudian dipilih lah nama "Asykar Theking".
Julukan "ASYKAR THEKING" sebagai supporter PSPS ini terpilih setelah beberapa anggota rapat sepakat denga nama ASYKAR sebagai arti PASUKAN dalam bahasa melayu.
Hanya saja,berbeda dengan nama ASKAR pada julukan tim PSPS, "Asykar" pada kelompok supporter mengunakan huruf Y dan tasdit (') diantara huruf S dan Y, sesuai dengan ejaan huruf melayu. "Teking" atau "Theking" merupakan istilah dalam panggilan sehari-hari di kehidupan orang melayu yang merupakan sebutan untu seseorang yang bandel, pantang menyerah dan tanpa henti untuk memperoleh atau mencapai sesuatu .
Dalam pertemuan itu disepakati pembentukan delapan rayon sesuai dengan jumlah kecamatan yang ada di Pekanbaru pada waktu itudan beberapa rayon di daerah sekitar kota Pekanbaru.
Sedangkan di bawah Rayon akan di bentuk bathin-bathin dan merupakan kumpulan supporter dengan jumlah yang lebih kecil.
sejarah psps
Berdiri: 1955
Alamat: Jl. Kenanga No. 47-A Indonesia
Telepon: +62 (0) 761-21329
Faksimile: +62 (0) 761-21329
Ketua: Drs. Herman Abdullah
Direktur: Destrayani Bibra
Stadion: Khaharuddin Nasution, Rumbai
Sejarah Singkat
Sejak berdirinya, PSPS Pekanbaru baru bisa mencicipi persaingan di Divisi Utama pada tahun 1998. PSPS pernah mengalami masa kejayaan pada musim 2004 di Liga Indonesia, ketika diperkuat sejumlah pemain tim nasional. Mereka juga sempat menjadi tim disegani selama dua musim.
Namun karena gagal menjadi juara, manajemen PSPS lalu merombak tim. Akibatnya, mereka terperosok, bahkan sampai ke Divisi I. PSPS promosi ke Divisi Utama setelah mengalahkan PS Indocement Cirebon.
PSPS kembali ke kasta tertinggi setelah menempati peringkat tiga Divisi Utama Liga Indonesia 2008/09.
Di bawah kepelatianh Abdulrahman Gurning, PSPS bertahan di Superliga dengan finis di peringkat ketujuh pada musim 2009/10.
Di tengah dualisme kompetisi sepakbola nasional, PSPS tetap ikut di Indonesia Super League (ISL) di bawah pengelolaan PT. Liga Indonesi
Sejak berdirinya, PSPS Pekanbaru baru bisa mencicipi persaingan di Divisi Utama pada tahun 1998. PSPS pernah mengalami masa kejayaan pada musim 2004 di Liga Indonesia, ketika diperkuat sejumlah pemain tim nasional. Mereka juga sempat menjadi tim disegani selama dua musim.
Namun karena gagal menjadi juara, manajemen PSPS lalu merombak tim. Akibatnya, mereka terperosok, bahkan sampai ke Divisi I. PSPS promosi ke Divisi Utama setelah mengalahkan PS Indocement Cirebon.
PSPS kembali ke kasta tertinggi setelah menempati peringkat tiga Divisi Utama Liga Indonesia 2008/09.
Di bawah kepelatianh Abdulrahman Gurning, PSPS bertahan di Superliga dengan finis di peringkat ketujuh pada musim 2009/10.
Di tengah dualisme kompetisi sepakbola nasional, PSPS tetap ikut di Indonesia Super League (ISL) di bawah pengelolaan PT. Liga Indonesi
Langganan:
Komentar (Atom)